Education Blog

Selamat Datang di Blog kami, segala komentar anda kami terima demi perbaikan bersama.

Senin, 11 Oktober 2010

PLANT TISSUES

Put a cross mark (x) on a, b, c, d, or e before correct answer!
1. Plant can grow bigger and tall. This matter is caused by activity existence of tissue…….

A. Meristem.
B. Epidermis.
C. Xylem.
D. Floem.
E. Parenkim.
2. Tissue meristem is…. .
A. Cell which have same function and structure.
B. Young tissue that differentiate.
C. Young tissue not yet differentiate.
D. Old tissue that differentiate.
E. Young cell which have fission capability..
3. Follow the function, permanent tissue divide to several tissue, except…. .

A. Parenkim.
B. Epidermis.
C. Promeristem.
D. Transport.
E. Contributor
4. Extern layer from plant. . . .

A. Pole tissue.
B. Endodermis
C. Parenkim
D. Epidermis
E. Cortex
5. Epidermis tissue functioned to …………

A. Food supply storage.
B. Root and trunk growth.
C. Photosynthesis.
D. Transport tools.
E. Protective tool.
6. To defend plant the life must move/carry away substance from root to leaf and from leaf to root. To carry away water from root so that to leaf is used tissue ……. .

A. Kolenkim.
B. Epidermis.
C. Xylem.
D. Floem.
E. Parenkim
7. A tissue found on young stem and leaf trunk that is growing and have function to strengthen is……. .

A. Kolenkim.
B. Meristem.
C. Sklerenkim.
D. Epidermis.
E. Parenkim.
8. Floem tissue that functioned to. . . .

A. Gas transfer.
B. Strengthen.
C. Plants organ stuffing
D. Transport water and mineral
E. Transport photosynthesis result.
9. Between cells under this is that experience thicken so that doesn't can passed by water is ……

A. Eksodermis.
B. Epidermis.
C. Perisikel.
D. Endodermis.
E. Cambium
10. Companion cell found in jaringan…. .

A. Xylem.
B. Floem.
C. Parenkim.
D. Cyperus microiria.
E. Cyperus microiria radius.
11. In profile blocks stick a plant kind found network as follows.

(1) epidermis
(2) cortex
(3) floem
(4) xilem
(5) cambium
When be seen by using microscope from inside to outside are. . . .

A. 1-2-3-4-5
B. 1-2-3-5-4
C. 1-2-4-5-3
D. 3-5-4-2-1
E. 4-5-3-2-1
12. When between xilem and floem found cambium so the type of vascular bundle is. . . .

A. Consentris amfikribal
B. Consentris amfivasal
C. Colateral opened
D. Colateral closed
E. Colateral

13. Root anatomy structure difference and stem, there is. . . .
A. In root not found epidermis while in stick found epidermis
B. In root not found stele while in stick found stele
C. In root found epidermis while in stick not found epidermis
D. In root found endodermis while in stick found endodermis
E. In root not found endodermis while in stick found endodermis
14. Several networks in plant. . . .

1. Epidermis
2. Sklerenkim
3. Cambium
4. Xilem
5. Palisade
Network only found in leaf. . . .

A. 1, 2, and 3
B. 1, 3, and 4
C. 1, 3, and 5
D. 1, 4, and 5
E. 2, 3, and 515. Not plants root composers network monokotil. . . .

A. Epidermis
B. Artery tie cambium
C. Cortex
D. Perisikel
E. Endodermis

16. Cambium function intravaskuler. . . .
A. Out make floem, into make xilem
B. Out make cortex, into make wood
C. Out make skin, into make wood
D. Out make cortex, into make xilem
E. Out make xilem, into make floem
17. Root hairs found at zona…. .

A. Cell cleavage.
B. Extending.
C. Maturation.
D. Meristem apical.
E. Kaliptra.
18. Artery bundle that scattered found in profile melintang…. .

A. Root monocotil.
B. Stick monokotil.
C. Root mengotil.
D. Stick mengotil.
E. Flower mengotil.
19. In plants root mengotil, ribbon kaspari found …. .

A. Floeterm.
B. Endodermis.
C. Perisikel.
D. Xylem.
E. Cyperus microiria.

20. Network spons in plant monokotil functioned untuk…. .
A. Protect other leaf part.
B. Place the happening of photosynthesis.
C. Accommodate oxygen for photosynthesis.
D. Gas transfer place.
E. Place the happening of evaporation.

Senin, 10 Mei 2010

KIAMAT, SURGA DAN NERAKA ALA FISIKA

Posted in ARTIKEL on Januari 2, 2009 by imamasyk

 

            Keyakinan akan datangnya hari hari kiamat, kenikmatan yang ada di surga dan panasnya bara api neraka sebagai buah dari segala perilaku dan amalan umat manusia sudah tidak dapat dibantah lagi adanya. Pasti dan akan nyata. Itulah ajaran yang ada pada setiap agama, sehingga tidak perlu lagi untuk dipertentangkan. Sebagai umat beragama, kita juga wajib untuk merenungkan dan berfikir apa dan kenapa bisa demikian. Analisa secara fisika berikut semoga menjadikan kita lebih mantab dan yakin akan keagungan Sang Maha Pencipta.

 

ANHILASI DAN MATERIALISASI

 

            Di fisika ada konsep tentang hukum kekekalan energi, dikatakan bahwa “energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya bisa berubah bentuk”. Artinya bahwa energi itu bersifat kekal adanya. Inilah salah satu hukum alam yang sangat fundamental. Sebagai contoh sederhana, pada kipas angin terjadi perubahan dari energi listrik menjadi energi gerak, pada rice cooker terjadi perubahan energi listrik menjadi energi panas dan sebagainya.

 

            Dari konsep yang sangat sederhana itu, akhirnya kita menjadi yakin dan sadar bahwa apapun yang kita kerjakan, dan pastinya memerlukan energi, maka energi itu tidak akan pernah hilang begitu saja. Energi itu akan tetap ada walaupun sudah sekian waktu yang lalu kita kerjakan. Energi positif, sebagai energi yang kita lepaskan sewaktu berbuat kebaikan dan amal, baik yang berupa materi, waktu, uang, tenaga ataupun hanya sekedar saran, ucapan atau senyum saja, maka semuanya itu akan terkumpul dan menjelma sebagai pahala. Sebaliknya energi negatif, sebagai energi yang kita lepaskan untuk berbuat kejelekan dan mungkar, walaupun hanya sekedar ucapan lesan yang menyinggung perasaan orang lain atau hanya niat sekalipun, maka energi itu akan terkumpul dan menjelma sebagai dosa.

 

            Bagaimana dosa bisa bermuara di neraka dan pahala berbuah di surga? Sebagai gambaran sederhana, ambil satu kilogram kayu bakar, kemudian kita bakar. Maka kita akan dapatkan energi panas (kalor). Setelah padam yang tersisa tinggal abu dan arang. Coba timbang lagi, pasti abu dan arang tersebut massanya kurang dari satu kilogram. Kemana hilangnya??? Inilah yang di fisika dikenal dengan massa defek (defect mass), artinya massa yang hilang dan berubah menjadi energi. Proses ini oleh Einstein dikenal dengan istilah anhilasi.

 

            Berapa besarnya energi yang dihasilkan dari anhilasi itu??? Lagi-lagi Einstein memberikan formula kesetaraan antara massa dan energi dengan persamaan E = mc2, di mana E = energi, m = massa defek dan c=kecepatan cahaya di vakum = 300.000.000 m/s (tiga ratus juta), berarti c2 = 9 x 1016 m2/s2. Kita bisa bayangkan andai kita makan ato minum makanan yang bukan hak kita atau makan dari hasil korupsi misalnya, sebanyak 1 kg saja, maka energi kalor hasil anhilasi itu adalah E = 1 kg x 9 x 1016 m2/s2 = 9 x 1016 joule. Allahu akbar….. 9 dengan nol sebanyak 16. (Bagaimana membacanya??)

 

            Padahal energi untuk mendidihkan 1 kg air dari suhu 20 oC dibutuhkan hanya sekitar 336.000 joule. Berarti 9 x 1016 joule buah dari korupsi 1 kg makanan setara dengan energi yang dapat mendidihkan 2.679 milyar kg air atau sekitar 26,79 juta truk tangki BBM @ 10 ribu liter..Kalau misalnya 1 truk panjangnya 10 m, maka akan ada sekitar 267 ribu km truk yang berjajar (=267 x jarak jakarta-banyuwangi) Subhanallah….. Berapa kg dosa kita….??????

 

            Begitu juga sebaliknya, kalau massa atau materi bisa berubah menjadi energi, maka energi juga bisa menjadi materi. Ini yang dikenal dengan istilah materialisasi. Kumpulan energi positif dalam bentuk pahala akan dapat berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa, dan itu akan bisa dinikmati di surga. Pertanyaannya…. kita mau menabung energi panas atau berharap kenikmatan yang dijanjikanNYA??

 

            Sampai-sampai manusia diperingatkan dan seakan ditantang oleh Yang Maha Kuasa…. Berbuatlah semaumu… sekuat kamu mampu menahan panasnya nerakaKU… terus kita mau apa lagi…..??? Angkuh yang bagaimana??

 

KIAMAT DAN GRAVITASI

 

            Kalau ada dua benda bermassa dan terpisah pada tertentu, maka akan selalu timbul gaya atraksi atau gaya tarik menarik yang disebut gaya gravitasi yang besarnya sebanding dengan massa masing-masing dan berbanding terbalik dang kuadrat jaraknya. Pernyataan ini dikenalkan oleh Newton sebagai gaya gravitasi yang dirumuskan dengan dengan G = 6,67×10-11 Nm2/kg2. Konsep ini yang mampu menjawab kenapa benda-benda angkasa (planet, satelit dsb) bergerak mengelilingi matahari dalam orbit tertentu.

 

            Jawaban sederhana ya karena adanya pengaruh gaya gravitasi matahari, di mana matahari memiliki massa yang terbesar diantara benda langit lainnya dalam keluarga tatasurya, maka berdasar konsep Newton di atas jelas bahwa gravitasi matahari adalah yang terbesar sehingga semuanya harus tunduk dan mengitarinya (dikenal dengan konsep Heliosentris). Bagaimana dengan Allahu Akbar (Allah maha besar), dzat yang maha kekal. Tentunya semua yang ada di alam semesta ini haruslah tunduk, takluk dan thowaf padaNYA. (andai boleh penulis sebut Allah sentris)

            Apa hubungan Kiamat dan gravitasi? Setiap saat matahari memancarkan sinarnya sebagai sumber energi kehidupan di jagat raya ini. Sementara energi panas yang terpancar adalah hasil dari energi termonuklir reaksi fusi (reaksi penggabungan inti ringan hidrogen menjadi helium) yang terjadi di matahari. Sebagai gambaran, 1 gram hidrogen menghasilkan kalor atau panas sebesar 642 milyar joule. Artinya, setiap saat massa matahari akan berkurang seiring perubahan energi termonuklir tersebut dan pada suatu saat pasti akan habis dan padam, sehingga kendali matahari terhadap benda-benda langit lewat gaya gravitasipun ikut lemah dan musnah. Maka saat itulah tatanan tatasurya akan berubah dari keteraturan dan gambaran akan terjadinya tabrakan antar benda angkasa pasti tidak akan terelakkan. Kiamat……

 

            Semoga kita termasuk golongan umat yang selamat dan menjadi ahli surga…. Amiin….

SEKOLAH SEMI PRIVAT

Posted in ARTIKEL on Januari 2, 2009 by imamasyk

 

            Sekolah sebagai lembaga formal yang diyakini dan diharapkan dapat menjadi ladang pendidikan yang mampu mencetak generasi yang handal dan profesional, menjadi satu tantangan tersendiri bagi praktisi pendidikan dan pemerintah untuk berkreasi dan berbenah diri guna merenovasi diri (self reform) dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan yang akhir-akhir ini banyak mendapatkan sorotan dan tanda tanya.

 

            Seiring dengan semangat KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang mengedepankan Student Center dan gema School Based Management yang telah dipopulerkan beberapa tahun silam, membuka kesempatan yang luas bagi dunia pendidikan untuk berkiprah, dalam kerangka meningkatkan mutu pendidikan, sehingga muncul berbagai inovasi pendidikan yang berkompetisi merebut simpati dan minat masyarakat untuk menjadi salah satu pilihan yang menggiurkan di hati masyarakat selaku konsumen pendidikan.

 

            Banyak sekolah negeri yang menjadi favorit dan idaman masyarakat karena kekhasan dan keunggulannya di salah satu atau berbagai bidang yang mampu mencuatkan popularitasnya, tetapi ada juga sekolah swasta yang mampu bersaing atau bahkan lebih unggul dalam merebut simpati masyarakat, walau dengan beaya yang relatif cukup tinggi. Di kota besar, sebut misalnya SMAN 5 Surabaya, SMAN 3 Malang, MAN 3 Malang, sekolah Ciputra, Petra, Santo Yusuf, Al-Azhar, Ta’miriyah, SMA Taruna dan sebagainya, Ukuran di kota kita semacam SDIT Baitul Izzah atau yang lain. Mereka bisa eksis dengan gaungnya yang luar biasa karena punya kekhasannya yang bisa dibanggakan dan dipertanggungjawabkan.

 

Andai aku bisa

            Berangkat dari angan-angan seorang guru yang mendambakan sebuah pendidikan dengan pembelajaran yang efektif dan efisien, penulis mencoba menimba pengalaman dari kegiatan yang dikekolanya sebagai miniatur kelas di sekolah yaitu bimbingan semi privat yang dikelola secara amatir di lingkup rumahnya yang diberi nama PHYSICAL HOUSE LEARNING atau Rumah Belajar Fisika. Tiap kelompok kelas hanya berisi 3 – 8 orang. Dengan nuansa Quantum Learning, menjadikan siswa sebagai warga belajar menemukan keasyikan tersendiri dalam belajar karena merasa terlayani secara individu sesuai dengan potensi dan minat yang ada pada pribadi siswa. Guru sebagai fasilisator lebih bisa memperhatikan perkembangan potensi akademik siswa secara perorangan karena jumlahnya yang relatif sedikit sehingga siswa merasa lebih nyaman, jauh dari perasaan takut karena tidak bisa atau dimarahi dan bahkan dapat membangun komunikasi dari hati ke hati sehingga bisa menanamkan nilai-nilai affektif, religi dan etika pada siswa.

            Dalam skala yang lebih besar, penulis mulai berandai-andai, andai pembelajaran di sekolah bisa dilaksanakan semacam ini, wow…. alangkah indahnya pendidikan ini. Ruang kelas yang besar-besar, yang rata-rata berukuran 8 m x 9 m tidak diperlukan lagi, cukup ruangan berukuran 3 m x 4 m dengan nuansa nyaman dan asri yang dihuni maksimal 10 orang siswa, sehingga 1 ruang kelas besar bisa disekat menjadi 6 ruangan kecil yang berarti 1 kelas bisa menjadi 6 kelas, sehingga beaya pembangunan fisik sekolah relatif dapat dikendalikan. Hanya problemnya, tiap sekolah hanya akan memiliki jumlah siswa yang relatif sedikit. Misal, kalau sebuah SMA mempunyai 10 kelas paralel untuk untuk tiap tingkat (kelas X, XI dan XII), maka jumlah siswa keseluruhan hanya 300 orang (30 kelas @ 10 orang). Praktis volume pekerjaan dari masing-masing perangkat sekolah akan jauh lebih ringan. Sebagai contoh, Wali kelas akan lebih banyak waktu untuk memperhatikan perkembangan potensi siswanya, BK akan lebih leluasa untuk memberikan bimbingan yang lebih optimal, tugas TU akan jauh lebih ringan, apalagi tugas guru, penulis yakin bahwa seorang guru akan bisa lebih berdaya dalam memberikan yang terbaik untuk putra putrinya. So pasti kenakalan dan problematika siswa yang selama ini banyak dikeluhkan oleh berbagai kalangan, dengan sendirinya akan terkikis seiring dengan bentuk perhatian dan bimbingan yang lebih memadai, karena setiap bibit-bibit penyimpangan yang menjadi embrio kenakalan siswa/remaja akan mudah terdeteksi sejak dini.

 

            Tingkat kompetisi akan tercipta dengan sendirinya dan profesional, karena masing-masing individu merasa terlayani dengan baik. Apalagi kalau dipermak atau dihiasi dengan fasilitas penunjang yang lebih memadai, yang memungkinkan potensi akademik dan sistem secara keseluruhan dari siswa sebagai warga belajar dan guru sebagai motor motivasi lebih dapat berpacu seirama, maka percepatan kesuksesan pendidikan di bumi pertiwi ini menjadi cepat terwujud dan Indonesia baru yang diimpikan para pejuang persada ini menjadi nyata. Hanya problemnya, akan banyak sekolah-sekolah baru bermunculan untuk dapat menampung semua anggota masyarakat pada usia sekolah.

 

            Tapi tidak ada jeleknya untuk dicoba, andai ada kemudahan dan potensi dalam kolaborasi mendirikan sebuah lembaga semacam sekolah formal, dengan model semacam ini (Penulis memberi nama Sekolah SEMI PRIVAT), maka Penulis sangat optimis dan yakin, ke depan ….. Sekolah yang menawarkan program atau model semacam ini akan dapat bersaing secara sehat dengan sekolah-sekolah seniornya. Masalahnya, secara otomatis beaya pendidikan yang dibebankan kepada para siswa akan lebih tinggi, karena beaya yang biasanya per kelas dipikul oleh rata-rata 40 orang, kini harus dinikmati sekitar 10 orang saja. Tetapi yang lebih prinsip, output dari proses pendidikan model semacam ini diyakini lebih menjanjikan, dan orang tua selaku penyandang dana sudah sedemikian cerdik dan kritis untuk menyikapi dan mengambil keputusan yang terbaik bagi anak-anaknya. Entoh kata sebagian orang bijak, “Investasi di dunia pendidikan itu tidak pernah basi”. Masyarakat akan rela dan merelakan untuk membeayai putra putrinya dengan beaya yang mahalpun, asal timbal balik yang diperolehnya juga memadai.

            Apa yang penulis tuangkan ini hanya sekedar obsesi dari seorang guru yang berangan-angan. “ ANDAI AKU BISA “ Dan ternyata penulis bukan siapa-siapa. Yang penting ada action dari setiap insan pendidikan untuk mau mereformasi diri untuk berinovasi ke arah yang lebih posisif dan riil.

 

Terima kasih.

Nganjuk, 3 Oktober 2006

By : Imam Abdul Syukur

PENDIDIKAN KARAKTER ANAK SEJAK DINI

Oleh : Iman Sofyani

(Guru Fisika SMAN 1 Sagaranten Kab. Sukabumi)

BAB I

PENDAHULUAN

       Dalam dasa warsa belakangan ini , kondisi bangsa demikian terpuruk. Tempaan demi tempaan terus melanda negeri ini. Konflik antar suku, agama, ras, golongan tak dapat dielakkan. Kemiskinan bukannya semakin surut, tetapi justru semakin bertambah. Kekerasan terhadap perempuan tidak semakin berkurang, hak-hak anak banyak terenggut. Bahkan bencana alam demi bencana alam yang merenggut ribuan nyawa manusia pun terjadi beberapa kurun waktu belakangan ini.

       Negara, sebagai pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas kelangsungan hidup rakyatnya, terlihat tidak cukup mampu mengatasi persoalan-persoalan krusial tersebut. Hal itu terjadi karena komitmen para penyelenggara negara untuk berpihak kepada kepentingan rakyat masih demikian minim. Korupsi terjadi di hampir setiap instansi pemerintahan. Pertarungan kepentingan antar golongan demi merebut dan atau mempertahankan kekuasaan pun seolah sudah menjadi santapan sehari-hari. Bagaimana mungkin penyelenggaraan negara akan semakin baik dan memberi makna bagi kehidupan seluruh rakyat, jika integritas para pemimpin bangsa demikian rapuh.

       Penyakit individualisme sebagai dampak dari masuknya kapitalisme global, pun sepertinya benar-benar telah merasuki jiwa hampir seluruh bangsa ini, sehingga menjadikan kepentingan diri menjadi nomor satu tanpa peduli dengan penderitaan orang lain, telah menjadi kebiasaan di banyak pribadi. Dalam mainset banyak pribadi saat ini, penderitaan seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri. Tidak ada tanggung jawab social apalagi tanggung jawab negara untuk mengentaskannya. Lalu apa yang salah sebenarnya dengan semua ini. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kondisi ini.

       Kegagalan membangun karakter bangsa yang kuat, memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama sepertinya memiliki andil yang signifikan bagi penciptaan kondisi bangsa seperti telah digambarkan di depan. Ketika kita berbicara mengenai karakter, tentunya hal itu akan sangat erat kaitannya dengan system pendidikan yang selama ini diberlakukan. Dan partisipasi komponen pendidik itu sendiri. Harus diakui, bahwa system pendidikan kita selama ini masih memberi ruang yang demikian sempit bagi anak untuk mampu mengenal diri dan potensinya sendiri. Pendidikan kita cenderug mencerabut anak dari akarnya. Anak dibiasakan untuk menerima sesuatu, yang sama sekali baru bagi mereka. Pendekatan yang dibuat dalam metode pendidikan kita pun relatif semakin menjauhkan anak dari alam dan lingkungannya. Betapa tidak, dalam pendidikan dasar misalnya. Untuk belajar matematika, anak langsung disodori dengan angka-angka yang tentu saja asing bagi mereka. Mereka tidak bisa belajar berhitung, belajar ilmu alam, dari lingkugan alamnya sendiri. Padahal sebenarnya alam telah meyajikan ilmu yang demikian besar bagi mereka. Akibatnya, kepedulian anak terhadap alam/kehidupan sekitarnya menjadi demikian minim. Bagaimana mereka mau peduli, ketika mengenal pun tidak Di samping itu, daya serap anak terhadap materi pelajaran yang mereka dapat pun menjadi kurang, karena materi yabg mereka dapat merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi mereka. Proses belajar secara alamiah tidak pernah dialami oleh anak.

       Ukuran nilai yang dibangun dalam system pendidikan kita selama ini pun cenderung merampas identitas dan jati diri anak. Ukuran keberhasilan pendidikan hanya dilihat dari nilai-nilai formal pelajaran di sekolah seperti membaca, berhitung, menulis, dll. Anak selalu didorong untuk memiliki kemampuan yang seragam, bisa membaca, menulis halus. Hal itu mengakibatkan terpangkasnya potensi lain yang seharusnya dimiliki anak. Orang tua pun akan cenderung mendorog anak untuk berprestasi dalam bidang-bidang yang dalam paradigma masyarakat umum bernilai baik. Dengan demikian potensi anak di bidang yang lain akan tidak diakomodir. Penyeragaman itulah yang pada gilirannya akan mereduksi nilai-nilai pluralitas atau keragaman. Perbedaan karakter dan potensi anak menjadi tidak diakui, yang dengan demikian pendidikan pluralitas menjadi sangat minimalis. Minimnya penghargaan akan perbedaan pada diri anak itulah yang kemudian akan membangun karakter yang tidak menghargai perbedaan pula, sehigga jika saat ini terjadi suasana yang chaostik di negeri ini, kiranya hal itu menjadi hal yang wajar, mengingat bangsa ini demikian tidak menghargai perbedaan yang ada.

       Nilai-nilai kepedulian yang tinggi terhadap sesama pun cenderung tidak diajarkan di sekolah. Sedangkan dalam lingkungan keluarga pun kadang-kadang orang tua masih menggunakan metode yang memaksa, kurang memanusiakan anak, sehingga proses internalisasi nilai pada anak menjadi kurang optimal. Keteladanan yang seharusnya didapatkan dari orang tua hampir-hampir tidak didapatkan oleh anak, mengingat orangtua telah disibukkan dengan urusan orang dewasa. Upaya pemecahan masalah anak pun kadangkala masih menggunakan pola berpikir orang dewasa, sehingga anak cenderung merasa kurang dihargai.

       Melihat kondisi ini, semua elemen bangsa ini harus segera dibangkitkan dari tidur panjangnya, agar menyadari akan keadaan yang sedang terjadi. Mempersiapkan anak-anak negeri menjadi kader-kader bangsa yang memiliki karakter yang mampu meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa, mewujudkan perubahan ke arah kehidupan yang bermakna bagi seluruh bangsa, merupakan satu hal yang harus segera dilakukan. Penyebaran wacana, untuk kemudian menjadi opini masyarakat merupakan satu upaya yang bisa dilakukan, karena perubahan perilaku mustahil akan didapatkan ketika perubahan pola berpikir tidak terjadi.

       Upaya yang bisa dilakukan dalam menanamkan pendidikan karakter sesuai dengan perannya, pada Peran orang tua, Peran masyarakat, Peran praktisi pendidik, Peran pemerintah. Menggali bersama-sama dalam keluarga masing-masing, kemudian menyebarkan pengalaman-pengalaman sebagai temuan untuk mendorong perubahan-perubahan menuju perubahan perilaku manusia anak dan manusia orang dewasa, maupun sistem yang berlaku menuju sistem yang bermuatan menghidupi hidup ini. Agar alam tidak protes kepada para penghuninya.

 

BAB II

ISI

A.  Pembentukan Karakter

       Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus. Ada beberapa hal yang perlu mendapat penekanan lebih, dalam menerapkan model pendidikan karakter.

a. Pertama, "Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut. "Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu alasannya apa dan masih terus melakukan hal-hal yang tidak baik, jadi masih ada gap antara knowing dan acting," .

b. Kedua, "Feeling the good". Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Disini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. "Jika Feeling the good itu sudah tertanam, itu akan menjadi "engine" atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau mengerem dirinya agar terhindar dari perbuatan negative"

c. Hal ketiga yang coba ditumbuhkan adalah "Acting the good". Pada tahap ini, anak dilatih untuk melakukan perbuatan baik. Tanpa melakukan, apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang, tidak akan ada artinya. Jadi, selama ini di sekolah, anak tidak dilatih untuk melakukan hal-hal yang baik. "Selama ini hanya himbauan-himbauan saja. Sementara, melakukan sesuatu yang baik itu harus dilatih, sehingga hal tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan mereka," Ketiga hal diatas harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Jadi, konsep yang dibangun adalah habit of the mind, habit of the heart dan habit of the hands.

       Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreatifitas, dan bahkan motorik. "Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup" .

       Pendidikan karakter berbasis humanis mau tidak mau mengajak kita menengok ke belakang, dimana pujangga besar yunani kuno, Homeros, meletakkan visi pendidikannya lewat tampilan pahlawan sebagai gambaran manusia ideal, yang memiliki areté. Dalam kaitannya dengan kualitas fisik bisa berarti kemampuan, kekuatan, keuletan, kepandaian, kesehatan, kemurahan hati, kemakmuran. Sementara dalam kaitan moral berarti keutamaan, keberanian, nilai, keadaan gembira, bijaksana, nama baik, keunggulan. Dalam fase perkembangannya, tidak sekedar terdominasi pada kesadaran perjuangan hidup individu untuk meraih keutamaan yang bersifat individual, justru semakin merambah pada keutamaan berbagai macam dimensi atau bidang kehidupan, misalnya keutamaan sebagai petani (Hesiodos), keutamaan serdadu (Tirteo dan Callino), keutamaan dalam olahraga (Pindaro), keutamaan sebagai orator (kaum sofis dan Isokrates), keutamaan filosofis (Plato).

       Gambaran ini menyimpulkan bahwa Yunani kuno memiliki dua inti ketertarikan pendidikan; gimnastik & musik, serta kebaikan & keindahan. Dimana pendidikan karakter ditekankan pada pertumbuhan individu secara utuh dengan cara mengembangkan potensi diri individu, yang berkaitan dengan dimensi fisik dan moral. Hingga di kemudian hari didapati adanya dua unsur penting bagi kurikulum Yunani klasik, pertama, adanya hubungan antara pendidikan manusia dengan lingkungan hidup yang mengitarinya. Maksudnya, mendidik berarti menanamkan nilai dan perilaku demi apresiasi dan rasa hormat dari masyarakat. Kedua, adanya gagasan bahwa pendidikan merupakan proses pembentukan manusia secara total sepanjang hidup. Intinya menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik. Seperti kata Martin Luther King, Jr: “Kecerdasan plus karakter adalah tujuan sejati sebuah pendidikan.”

       Gagasan brilian pujangga besar Homeros kemudian dikembangkan oleh Hesiodos. Konsepnya berubah dari konotasi kepahlawanan menjadi pergulatan di medan kehidupan sehari-hari bagi kaum jelata, kalangan sederhana, dan petani. Menurutnya kalangan ini dapat memiliki keutamaan lewat penghayatan akan makna kerja keras dengan cucuran keringat. Areté pada kaum ini diperoleh melalui sikap bersahaja dan sederhana dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Berdasarkan pengalamannya menghadapi konflik pribadi dengan saudara laki-lakinya, Perse, selanjutnya muncul dua dasar prinsip pendidikan; berlaku adil, dan mau bekerja keras. Sebab menurutnya, mereka yang tidak bekerja telah berlaku tidak adil. Dasar moral yang dihantarnya lewat media puisi ini dalam kerangka pedagogi dan pendidikan karakter dapat menjawab pertanyaan: apakah pendidikan yang mengarah pada keutamaan yang akan menjadi karakter individu dapat diajarkan? Dan, apakah areté dapat diajarkan? Ketegasan Hesiodos menjawab: Ya!, membawa kita pada rangkuman pemikiran dua pendidik besar dalam kultur Yunani; Homeros yang mengingatkan kita bahwa setiap kebudayaan bergerak dalam kerangka pembentukan humanisme aristokratis lewat kemunculan kesadaran diri untuk membentuk kualitas diri sebagai pahlawan dan tuan atas diri sendiri. Sedangkan Hesiodos menunjukkan dasar kokoh keutamaan populis berupa penghargaan atas nilai kerja yang membingkai perilaku adil demi kestabilan dan kesejahteraan suatu masyarakat.

       Pendidikan karakter atenean yang lebih bersifat demokratis, dialogis, dan menghargai individu, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pendidikan karakter spartan pada masa kemerosotan. Menjadi antitesis oleh sifatnya yang tiranis, totalitarian, dan komunal. Areté pun tidak sekadar idealisme dengan menjadi serdadu bersemangatkan patriotisme, namun negara sebagai institusi tertinggi mengambil alih kinerja edukatif secara total, dan dalam arti yang sesungguhnya. Perubahan drastis ini mengikuti perubahan masa keemasan Sparta dari negara militeristis, namun juga menjadi pusat kegiatan budaya, seni, dan keindahan lewat perkembangan musiknya, menjadi lebih barbar, keras, dan membatu. Akibat terjadinya revolusi sosial politik sekitar tahun 550 SM dikukuhkan keberadaan para tiran yang memegang kendali militer secara holistik. Dalam konteks rejim tiranis militeristis, pendidikan karakter Sparta bagi warga negara terutama diarahkan pada perubahan keutamaan moral sebagai warga negara, yang memiliki cinta dan ketaatan secara total pada tanah air, menghargai nilai kekuatan dan kekerasan, dan mengutamakan latihan fisik demi kesiapan tempur. Gambaran idealisme kepahlawanan secara total lalu mengaliri setiap jiwa warga negara yang kemudian diamini sebagai idealisme pendidikan karakter ala Sparta. Hingga menegaskan dan meyakini betapa pentingnya negara sebagai identitas komunal sebagai bagian dari kinerja individu untuk menyempurnakan hidupnya. Sebab dikatakan bahwa individu tidak akan sampai pada kesempurnaan kemanusiaannya jika tidak disertai adanya semangat berkorban terhadap komunitas yang kebaikannya mengatasi kebaikan individual.

       Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus-menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Sebab dengan membelajarkan secara serempak pikiran, hati, dan fisik, anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari "karakter". Dimana mereka mendidik anak menjadi "good and smart", dalam arti ‘terang hati dan pikiran’. Inilah visi baru kemanusiaan yang dihantar oleh Sokrates lewat paradigmanya yang terkenal, “kenalilah dirimu sendiri”. Dengan mengenal diri sendiri, berarti manusia juga mengenali ‘jiwa’-nya. Lewat pemeliharaan jiwa sebagai tujuan pendidikan karakter, Sokrates memberi warna baru bagi Athena. Dan bagi dunia secara keseluruhan. Sebab, jiwa merupakan suatu hal yang membedakan manusia yang satu dengan manusia lainnya. Lebih dari itu, areté dalam versi Sokrates lebih interior, yaitu dimensi moralitas manusia. Pemahaman ini dikritik pedas oleh Plato, karena menurutnya pendidikan memiliki fungsi esensial untuk memimpin manusia pada keutamaan, yang membawa manusia pada kehidupan kontemplatif antara apa yang ‘baik’ dan yang ‘benar’. Lewat penggabungan tiga kenyataan penting dalam diri manusia yaitu negara, kebahagiaan dunia, dan kebahagiaan yang mengatasi dunia ini. Inilah jiwa yang mesti dipelihara keharmonisannya. Dan visi ini hanya bisa dilakukan dalam kebersamaan dengan semua warga untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang demokratis. Di dalamnya kebaikan dan keadilan menjiwai setiap kehidupan politik dan individual warga negara. Tanpa kontekstualisasi dalam kehidupan politis, perilaku moral sebaik apa pun hanya akan memiliki corak domestik.

B.  Tradisi, Keluarga, dan Pendidikan Humanis

       Salah satu hadiah paling bagus yang dapat diberikan orangtua kepada anak-anaknya adalah kegemaran membaca, dan menyukai buku-buku bagus. Pada tahap awal dapat lewat hanya membacakan. Bentuk terkecil dari pertanggungjawaban orangtua atas perkembangan moral anak, namun sama kuat pengaruhnya dengan teladan yang baik. Lewat ‘mendengarkan’ sebagai kompetensi dasar, anak mempelajari sebuah ketrampilan. Semakin sering dilakukan akan semakin terampil. Inilah salah satu metode yang dapat digunakan keluarga sebagai bagian dari masyarakat dalam membantu pelaksanaan pengakuan negara terhadap hak anak, seperti tercantum dalam pasal 29 ‘c’ Konvensi Hak Anak: ‘Pengembangan rasa hormat kepada orang tua anak, indentitas budaya, bahasa dan nilai-nilai nasional dimana anak bertempat tinggal, dari mana anak dan kepada peradaban-peradaban yang berbeda dari peradabannya sendiri.’.

       Pendidikan karakter dibentuk melalui sistem pater familias (keluarga) yang menghormati mos maiorum (rasa hormat terhadap tradisi leluhur sebagai norma tingkah laku dan cara berpikir) dan berazaskan nilai-nilai: mengutamakan kebaikan tanah air, devosi (la pietas) atau pengabdian, kesetiaan (la fiedes), perilaku bermutu (la gravitas), dan stabilitas. Singkat kata, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam proses pendidikan anak berdasarkan nilai-nilai penghormatan yang sama bagi sang pencipta, orangtua, dan negara; menjaga komitmen melalui kesetiaan sebagai dasar terciptanya keadilan; memiliki rasa percaya diri sepenuhnya dalam mengambil tindakan berdasarkan pengalaman; serta membina koherensi antara tindakan dengan pemikiran diri sendiri.

       Masih terus berlanjut pengembangan pemahaman akan Pendidikan karakter bagi anak pada jaman sesudahnya sehingga kesimpulan adalah hal yang tidak layak untuk dihadirkan. Justru layak bila dipelajari lebih lanjut pemikiran-pemikiran orang besar dalam dunia pendidikan ini.

 

BAB III

PENUTUP

 

            Pendidikan karakter diharapkan mampu memperbaiki kondisi moral bangsa agar menjadi lebih baik dari sebelumnya dan dapat menangani masalah-masalah atau konflik yang ada di Negara ini.